MAHESA KANG

dihadirkan oleh, KWAK.


DESKRIPSI SINGKAT

Mahesa Kang lahir di Jakarta dari ayah asal Busan dan ibu asal Bandung. Sejak kecil, rumahnya dipenuhi dua budaya yang sangat berbeda. Di meja makan ia terbiasa mendengar bahasa Korea dan Indonesia bercampur menjadi satu, sementara hari-harinya diisi dengan kimchi berdampingan dengan sambal.Saat berusia lima belas tahun, keluarganya pindah ke Seoul karena pekerjaan sang ayah. Perpindahan itu bukan hal mudah. Meski memiliki darah Korea, logat Indonesianya membuatnya dianggap "orang luar". Sebaliknya, ketika pulang ke Indonesia saat liburan, teman-temannya justru memanggilnya "anak Korea".Perasaan tidak benar-benar memiliki tempat itu membuat Mahesa menguasai bahasa sebagai cara membangun hubungan dengan orang lain. Ia percaya bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga jembatan untuk memahami budaya.Setelah menyelesaikan kuliah di Yonsei University, ia memutuskan kembali ke Indonesia. Banyak orang mengira ia akan bekerja di perusahaan besar Korea, tetapi Mahesa justru memilih menjadi guru. Baginya, melihat seseorang akhirnya mampu mengucapkan kalimat pertama dalam bahasa Korea dengan percaya diri jauh lebih memuaskan daripada mengejar jabatan korporat.Di luar jam mengajar, Mahesa sering menerima pekerjaan sebagai interpreter untuk rapat bisnis, negosiasi, maupun kunjungan perusahaan Korea ke Indonesia.

BIODATA

Nama:
Mahesa Kang (강마헤사)
Nama panggilan:
Mahes, Hesa, Mahesa
Tempat lahir:
Jakarta, Indonesia
Tanggal lahir:
18 Februari 1998
Kewarganegaraan:
Indonesia
Etnis:
Korea Selatan-Indonesia
Pekerjaan:
- Korean Language Instructor di sebuah lembaga bahasa Korea premium di Jakarta.
- Freelance Korean Interpreter & Translator.


Rumah pertama yang dikenal Mahesa selalu terasa seperti pertemuan dua dunia.Ia lahir dan dibesarkan di Jakarta dari seorang ayah asal Korea Selatan dan ibu Indonesia. Di rumah, dua bahasa digunakan bergantian, begitu pula dua budaya yang berjalan berdampingan tanpa pernah saling menutupi. Baginya, semangkuk kimchi di samping sepiring nasi goreng adalah hal yang sama wajarnya dengan memanggil kedua orang tuanya dalam dua bahasa yang berbeda.Saat menginjak bangku SMA, Mahesa mengikuti kepindahan sang ayah ke Seoul. Ia sempat berpikir bahwa darah Korea yang mengalir dalam dirinya akan membuat segalanya terasa mudah. Nyatanya, ia kembali menjadi orang asing. Nama Indonesianya terdengar tidak biasa, logatnya berbeda, dan kebiasaannya tak sepenuhnya sama dengan teman-teman sekelasnya.Pengalaman itu membuat Mahesa menyadari bahwa identitas bukan sekadar soal tempat lahir atau garis keturunan. Identitas adalah sesuatu yang dibentuk oleh pengalaman dan diterima dengan penuh kesadaran.Ketertarikannya terhadap bahasa dan budaya membawanya menempuh pendidikan Bahasa Korea di Yonsei University. Setelah menyelesaikan studinya, ia memilih kembali ke Jakarta—kota yang selalu ia anggap sebagai rumah. Di sana, ia bergabung dengan kantor cabang sebuah perusahaan Korea sebagai Corporate Communication & Localization Specialist, menjembatani komunikasi antara kantor pusat di Seoul dan tim di Indonesia.Di tengah pekerjaannya, Mahesa beberapa kali dipercaya mengajar kelas Bahasa Korea bagi karyawan yang akan ditugaskan ke Korea Selatan. Dari ruang kelas sederhana itulah ia menemukan kepuasan yang tak pernah ia rasakan di balik meja kantor. Ia menyadari bahwa dirinya lebih menikmati membantu seseorang memahami bahasa daripada sekadar menerjemahkan dokumen.Keputusan meninggalkan dunia korporat tentu mengundang banyak pertanyaan. Meski begitu, kedua orang tuanya memilih mendukung langkah tersebut. Bagi mereka, kebahagiaan anak mereka jauh lebih penting daripada jabatan atau besarnya gaji.Kini, Mahesa menetap di Jakarta sebagai pengajar di sebuah lembaga Bahasa Korea. Di luar jam mengajar, ia juga aktif bekerja sebagai interpreter dan translator untuk berbagai perusahaan Korea dan Indonesia. Baginya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan yang menghubungkan manusia dengan budaya, kesempatan, dan rasa memiliki.Mahesa tidak pernah merasa harus memilih antara menjadi orang Indonesia atau orang Korea. Ia adalah keduanya. Dan di situlah ia akhirnya menemukan arti dari kata pulang.

RIWAYAT PENDIDIKAN & PEKERJAAN

2004–2010:
SD Santa Laurensia, Tangerang, Indonesia.
2010–2013:
SMP Santa Laurensia, Tangerang, Indonesia.
2013–2016:
Seoul International School, Seoul, Korea Selatan.
2016–2020:
Yonsei University, Seoul, Korea Selatan.
Bachelor of Arts in Korean Language Education (한국어교육학).
2020–2022:
Corporate Communication & Localization Specialist di kantor cabang perusahaan Korea di Jakarta. Bertanggung jawab sebagai penghubung komunikasi antara kantor pusat di Seoul dan tim Indonesia, menerjemahkan dokumen bisnis, menangani kebutuhan lokalisasi, serta mendampingi komunikasi lintas budaya dalam berbagai proyek dan pelatihan internal.
2022–Sekarang:
Korean Language Instructor di sebuah lembaga bahasa Korea premium di Jakarta. Mengajar kelas reguler, kelas persiapan TOPIK, serta kelas privat bagi pelajar, profesional, dan calon pekerja yang akan berangkat ke Korea Selatan.
2023–Sekarang:
Freelance Korean Interpreter & Translator. Menangani penerjemahan dokumen, pendampingan delegasi, serta interpretasi untuk pertemuan bisnis, seminar, dan kerja sama antara perusahaan Korea dan Indonesia.


TRIVIA

  • Memiliki tato lingkaran minimalis di lengan kiri bagian dalam yang terinspirasi dari desain ikonis milik Paulo Dybala. Baginya, lingkaran tersebut melambangkan perjalanan hidup yang selalu membawanya kembali ke tempat yang ia sebut rumah.

  • Terbiasa berganti bahasa tanpa sadar. Saat berbicara dengan ayahnya, ia sering menyelipkan bahasa Korea di tengah percakapan bahasa Indonesia, begitu pula sebaliknya.

  • Selalu datang 15–20 menit lebih awal sebelum kelas dimulai. Waktu itu biasanya ia gunakan untuk menyiapkan materi atau menikmati secangkir kopi.

  • Memiliki kebiasaan menggulung lengan kemeja hingga tepat di bawah siku ketika mulai mengajar, membuat tato di lengannya sesekali terlihat oleh murid-muridnya.

  • Masih menyimpan kartu transportasi (T-money) pertamanya dari Korea Selatan sebagai pengingat masa-masa adaptasinya di Seoul.

  • Hampir tidak pernah mengangkat suara saat marah. Semakin kesal, justru nada bicaranya akan terdengar semakin pelan.

  • Sering diminta menjadi penerjemah dadakan saat berkumpul dengan keluarga atau rekan kerja setiap kali ada tamu dari Korea Selatan. Meski sudah terbiasa, ia selalu merasa percakapan akan jauh lebih hangat ketika kedua belah pihak mulai saling memahami.

  • Sampai sekarang masih sesekali menerima undangan makan atau pesan singkat dari mantan muridnya yang berhasil melanjutkan studi maupun bekerja di Korea Selatan. Baginya, melihat murid berkembang adalah pencapaian yang lebih membanggakan daripada penghargaan apa pun.

  • Meski fasih berbahasa Korea, ia sesekali masih menggunakan ungkapan khas Indonesia ketika terkejut, membuat rekan-rekan Koreanya tertawa.

  • Hampir setiap akhir pekan menyempatkan diri makan siang di rumah orang tuanya, kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak kembali menetap di Jakarta.